Tampilkan postingan dengan label tentram. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tentram. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Juni 2011

SUBHANALLAH !!! TAHAJJUD







Mengapa Allah menyuruh kita bangun ditengah malam untuk melaksanakan shalat tahajjud di tengah malam? Apa rahasia dibalik perintah Allah tersebut? Apakah betul orang-orang yang bertahajjud ditengah malam akan diangkat Allah ke tempat yang terpuji?



*Shalat Tahajjud, Stres dan Hormon Kortisol (Hormon Stres)*Siapa bilang ajaran dalam agama Islam hanya dogma dan doktrin. DR. Muhammad Soleh, dosen IAIN Surabaya, telah mampu membantah pandangan tersebut melalui desertasi yang ia pertahankan sehingga mendapatkan gelar doktor dalam bidang ilmu kedokteran pada Program Pasca Sarjana Universitas Surabaya, dengan judul “Pengaruh shalat Tahajjud terhadap peningkatan perubahan respon ketahanan tubuh imunologik: Suatu Pendekatan Psikoneuroimunologi”, menyimpulkan jika Anda melakukan shalat tahajjud secara rutin, benar gerakannya, ikhlas dan khusyu’ niscaya Anda akan terbebas dari penyakit infeksi dan kanker.

..“Dan pada sebagian malam bertahajjudlah dengannya sebagai tambahan bagimu mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji”.(Surat al-Isra’, ayat 79)...
Desertasi ini melibatkan 41 responden siswa SMU Luqman Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah, Surabaya. Dari 41 siswa, hanya 23 yang sanggup yang sanggup menjalankan shalat tahajjud selama satu bulan penuh. Setelah diuji lagi, tinggal 19 siswa yang bertahan shalat tahajjud selama dua bulan. Shalat tahjjud dimulai pukul 2.00-3.30 wib sebanyak 11 rakaat, dengan dua rakaat sebanyak 4 kali dan ditutup shalat witir sebanyak tiga rakaat. Dan selanjutnya hormon kortisol (hormon stres) dari 19 siswa tersebut diperiksa di tiga laboratorium di Surabaya (Pramitha, Prodia dan Klinika).



Apa yang terjadi? Para siswa yang shalat tahajjud dengan rutin dan ikhlas berbeda dengan siswa yang tidak melaksanakan shalat tahajjud. Mereka yang melaksanakan shalat tahajjud tersebut memilki kadar hormon kortisol yang rendah. Hal ini menandakan mereka memiliki ketahanan tubuh yang kuat dan kemampuan individu yang tangguh sehingga mampu menanggulangi masalah-masalah sulit dengan lebih stabil.



Hormon kortisol merupakan salah satu hormon stres. Kadar hormon ini semakin meninggi ketika kita dalam keadaan stres. Dengan kadar hormon yang meninggi kita lebih mudah berbuat salah, sulit berkonsentrasi dan daya ingat kita kurang baik. Hormon ini oleh pakar kesehatan dijadikan tolak ukur untuk tingkat/derajat stres seseorang. Makin stres seseorang maka hormon kortisol semakin meninggi dalam darahnya. Hormon kortisol memiliki kadar tertinggi di waktu tengah malam hingga di waktu pagi, terutama pagi-pagi sekali (normal di pagi hari berkisar 38-690 nmol/liter, sedangkan malam-nya 69-345 nmol/liter).



Stres dan depresi menjadi penyakit yang lazim di zaman sekarang ini. Stres sebenarnya keadaan yang positif bagi kita jika digunakan dalam keadaan yang masih wajar. Jika berlebihan maka kadar hormon adrenalin dan hormon kortisol akan meningkat sehingga menganggu sistem kekebalan tubuh yang akhirnya kita mudah terkena infeksi, penyakit maag, asma, dan memperburuk penyakit degenaratif kronis (kanker, diabetes, rematik dan lain-lain).



Dengan shalat tahajjud yang dilakukan secara rutin, ikhlas dan khusyu’akan mampu menciptakan karakter baru serta tangguh bagi pelaksananya, sehingga kita akan memiliki persepsi dan motivasi yang positip yang nantinya akan terhindar dari stres. Mungkin itulah maksud firman Allah pada surah Al-Isra’, ayat 79 diatas tentang diangkatnya para pelaksana shalat tahjjud ke tempat yang terpuji. Allahua’lam.



*Mengapa Harus Tengah Malam?*Kata tahajjud terambil dari kata hujud yang berarti tidur. Kata tahajjud dipahami oleh al-Biqai dalam arti tinggalkan tidur untuk melakukan shalat. Shalat ini juga dinamakan Shalat Lail/Shalat Malam, karena ia dilaksanakan di waktu malam yang sama dengan waktu tidur. Shalat ini terdiri dari dua sampai dengan delapan rakaat.



Apa rahasia bangun di tengah malam untuk shalat tahajjud? Hal ini telah dijawab Allah pada surat al-Muzzammil, ayat ke 6-7, berbunyi: “Sesungguhnya bangun di waktu malam, dia lebih berat dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya bagimu di siang hari kesibukan yang panjang.”



Dari ayat tersebut ada dua hal yang begitu mengesankan kita. Pertama, sengaja untuk bangun malam. Kedua, bacaan di malam hari memilki efek dan dampak yang lebih mengesankan. Sengaja bangun malam hanya bisa dilakukan oleh orang memiliki niat yang kuat pula. Niat yang yang kuat pasti didorong oleh motivasi yang kuat, sehingga pekerjaan tersebut akan dilakukan dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh.




Minggu, 29 Mei 2011

MAKNA DIBALIK KATA MAAF (INDAHNYA KATA MAAF)



Mudah diucapkan, tapi sulit untuk memaknainya dengan benar. Bagaimana caranya untuk mencapai maaf yang ikhlas agar bisa menyehatkan jiwa dan raga? Cobalah perhatikan betapa sering kata maaf meluncur dari mulut kita – menyenggol badan orang sedikit sajakita mengucapkan maaf; ingin lewat di depan orang lagi-lagi kita bilang maaf; bahkan sebelum mengakui suatu kesalahan, kita buru-buru minta maaf terlebih dahulu. Dalam konteks ini, permintaan maaf lebih berkesan sebagai basa basi. Padahal, sebetulnya meminta maaf mempunyai makna yang lebih dalam.

Sejak zaman dulu pun, meminta maaf dan memaafkan dianggap sebagai hal penting dalam kehidupan. Bukan dalam agama Islam saja, agama-agama yang mendunia seperti agama Kristen, Hindu, dan Buddha juga memasukkan maaf dalam ajarannya. 

Melepaskan marah dan bergerak maju
Katherine Piderman, PhD, staf ahli di Mayo Clinic mengatakan bahwa maaf (forgiveness) adalah keputusan untuk melepaskan perasaan marah, benci, dan kesal, dan juga pikiran-pikiran untuk membalas dendam. ”Memaafkan bisa mendatangkan pemahaman, empati, dan kasih sayang pada orang yang pernah menyakiti kita,” Piderman menambahkan.
Sebaliknya, ketika kita hidup tanpa pemaafan, maka kita akan melanggengkan derita psikis yang berawal dari sikap permusuhan dan keinginan untuk mengalahkan. Demikian dikatakan Felix Lengkong, doktor di bidang psikologi klinik yang juga menjadi dosen di Universitas Atma Jaya Jakarta (Kompas, Januari 2008).
Meski demikian, Robert Enright, PhD, profesor di bidang perkembangan manusia di University of Wisconsin Madisonmengingatkan bahwa memaafkan tidak berarti kita harus berpura-pura bahwa situasi yang membuat kita tidak nyaman tidak pernah terjadi. ”Memaafkan berarti Anda menerima apa yang terjadi, berusaha menerima orang lain yang menyakiti Anda, menyadari dan mengakui bahwa Anda terluka, dan kemudian memutuskan bahwa situasi itu tidak akan Anda izinkan untuk merusak kehidupan Anda,” kata Enright.

Menerima diri sendiri apa adanya
Meski memaafkan orang lain itu penting, Reza Gunawan, praktisi penyembuhan holistik, mengingatkan kita untuk memaafkan diri sendiri sebelum memaafkan orang lain.
”Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering marah pada diri sendiri karena hasil yang dicapai tak sesuai dengan harapan kita atau yang kita sebut sebagai sebuah kegagalan,” kata Anil Bhatnagar, seorang penulis dan trainer perubahan perilaku, dalam tulisannya yang berjudul Why Forgive?
”Sepanjang hidup, kita terbiasa untuk mengukur diri kita dan bertingkah laku sesuai standar yang ditentukan oleh masyarakat. Akibatnya, kalau pencapaian kita tidak sesuai dengan harapan masyarakat, kita mulai percaya bahwa kita tidak cukup baik dan tidak berharga. Kemudian kita memvonis diri kita dengan kata-kata ’aku gagal…’ atau ’aku seharusnya… ,’ yang menimbulkan rasa bersalah,” kata Gwen Nyhus  Stewart, penulis buku The HealingGarden: A Place of Peace.
Karena itu, Reza menyarankan untuk terlebih dahulu memaafkan diri sendiri dan melepaskan diri dari berbagai ”penjara batin” yang kita ciptakan sendiri, yang menjadi akar dari segala keluhan, stres, dan penderitaan kita.
          Rani Anggraeni Dewi, MA dari Yayasan Indonesia Bahagia, meyakini bahwa memaafkan diri sendiri – juga memaafkan orang lain – adalah salah satu bentuk detoks emosi. ”Racun-racun yang ada di dalam hati kita, jika tidak dibersihkan dapat meracuni juga orang lain di sekitar kita,” kata Rani.

Usir berbagai penyakit fisik
Lebih lanjut menurut Rani, ketika kita memendam emosi-emosi negatif di dalam hati kita, selain menyiksa diri dan membuat orang di sekitar kita menderita, ternyata kita juga bisa merusak fisik kita.
Dr Tim Ong, penulis buku  From Fear to Love: A Spiritual Journey, mengatakan bahwa seringkali penyakit fisik adalah manifestasi dari emosi dan konflik yang belum terselesaikan, yang umumnya berhubungan dengan kemarahan dan menyalahkan diri sendiri. ”Kemarahan biasanya kita arahkan pada obyek di luar diri kita, yaitu ke orang lain, sementara menyalahkan diri sendiri adalah kemarahan yang diarahkan ke dalam, dan keduanya membawa penyakit di tubuh kita,” demikian penjelasannya.

Apa saja manfaat memaafkan?
  • Hindarkan diri dari gangguan jantung. Sebuah penelitian membuktikan, semakin lama seseorang menyimpan kemarahan dalam hatinya,  risiko untuk mengalami tekanan darah tinggi semakin meningkat.
  • Kurangi sakit punggung.  Sebuah penelitian berskala kecil terhadap beberapa pasien dengan sakit punggung bagian bawah yang kronis di Duke University Medical Centre menunjukkan bahwa rasa sakit yang dirasakan berkurang ketika mereka bisa lebih memaafkan. Pengurangan rasa sakit ini makin terasa ketika para pasien sakit punggung kronis diminta untuk melakukan meditasi selama delapan minggu yang bertujuan untuk mengubah kemarahan menjadi rasa cinta.
  • Tingkatkan imunitas.  Penelitian yang dilakukan oleh Institute of HeartMath di Boulder Creek, membuktikan situasi yang menimbulkan kemarahan, frustrasi, dan kebencian selama lima menit, tingkat antibodi Ig A (immunoglobulin A) yang membantu tubuh melawan infeksi, ternyata menurun sangat signifikan.  Efek negatif ini masih bertahan selama lebih dari 5 jam. Sebaliknya, ketika diminta untuk mengingat dan memunculkan kembali perasaan cinta pada seseorang atau situasi yang menyenangkan selama 5 menit, ternyata kadar IA subjek penelitian langsung meningkat tajam
  • Turunkan Risiko Kanker. Bahkan, penelitian yang dilakukan O Carl Solomon, MD., Direktur Simon Cancer Counseling Center di California menunjukkan bahwa kecenderungan menyimpan dendam dan ketidakmampuan untuk memberikan maaf berhubungan dengan peningkatan risiko terkena kanker. Memaafkan diri sendiri, memberi maaf pada orang lain tanpa syarat dan merasa dimaafkan orang lain ternyata berhubungan dengan angka kejadian kanker. Khusus perasaan dimaafkan oleh orang lain ternyata berhubungan dengan penurunan sekitar 50% dari munculnya kanker tiga tahun kemudian. Menurut penelitian ini, perasaan dimaafkan mengurangi stres yang dirasakan seseorang serta efek-efek negatif lain. Kondisi ini pada akhirnya akan memberikan pengaruh pada sistem kimiawi saraf, endokrin, dan imunitas tubuh, yang semuanya berhubungan dengan perkembangan sel kanker.

Keuntungan untuk diri sendiri
          Efek positif memberi maaf – baik pada orang lain maupun pada diri sendiri –diakui oleh Elizabeth Scott, MS, seorang konselor di bidang anger management. ”Proses memaafkan itu lebih berpengaruh terhadap diri sendiri dibandingkan untuk orang lain,” katanya.
Bahkan, Sidney B Simon EdD., seorang konsultan dan pengajar diUniversity of Massachussetts mengatakan, “Jika Anda merasa malu untuk mengatakan ‘saya memaafkan kamu’, simpan saja kalimat itu di dalam hati, karena maaf tidak perlu ditawarkan secara langsung pada orang yang melukai Anda.”
Sementara, jika hubungan dengan orang itu penting untuk Anda dan Anda ingin mempertahankannya, Scott menyarankan untuk berbicara langsung dengan orang tersebut, sehingga dia pun bisa memahami apa kesalahannya terhadap Anda.
Tapi, jika Anda ingin memutuskan hubungan dengannya, atau situasinya tidak memungkinkan Anda untuk menyampaikannya secara langsung,  Scott menyarankan untuk membuat tulisan tentang hal-hal yang ingin Anda maafkan, lalu membakarnya sampai habis.. ”Proses membakar kertas sampai habis itu bisa membantu Anda melepaskan  emosi negatif yang Ada miliki,” katanya.

Tingkatkan harga diri
            Ketika orang sudah berhasil membebaskan diri dari emosi negatif, maka yang tertinggal adalah emosi positif, yang selanjutnya akan mendorong orang untuk berperilaku positif. ”Dengan perilaku positif, kita bisa mempengaruhi atau menginspirasi orang lain untuk hidup dengan nilai-nilai universalseperti perdamaian, toleransi, tanggung jawab, kejujuran, kerendahan hati, dan kasih sayang,” Rani mengungkapkan.
            Tak hanya berguna bagi orang lain, efek dari emosi yang  positif ini tentu juga menguntungkan diri kita sendiri. ”Orang yang memiliki tingkat toleransi rendah, dan sulit untuk memaafkan orang lain biasanya mempunyai penghargaan rendah terhadap diri sendiri,” kata Enright. Orang-orang dengan karakter semacam ini cenderung mengalami kecemasan dan depresi. ”Tapi, jika orang ini mau belajar untuk bertoleransi dan memaafkan, harga diri mereka akan meningkat, kecemasan dan depresi pun akan hilang, ” tambahnya.
            ”Kita semua tahu, orang dengan harga diri yang tinggi cenderung bisa mencintai dirinya sendiri, dan merasa hidupnya begitu indah,” kata Enright. Kuncinya, ya itu tadi,  meminta maaf dan memberi maaf, baik  pada orang lain maupun pada diri sendiri